Pages

01 November, 2008

Rahasia Veni

Cerpen: Sokat
Bel akhir mengusir semua anak keluar dari tiap-tiap kelas. Veni bernapas lega dan menoleh pada Ira di sampingnya.
“Jadi kita nomat?” tanyanya yang disambut anggukan semangat dari Ira.
“Aku boleh ikut?” tanya suara dari belakang mereka.
Veni menoleh pada Cici yang cengar-cengir. Veni berdiri dari bangkunya. Juga Ira. Dan Cici yang segera merendeng Veni meminta kepastian.
“Aku boleh ikut, kan?” ulang Cici dengan suara dimanja-manjain.

Veni tersenyum. “Ya, udah cepat bawa tasku ke mobil.”
Dengan senyum senang, Cici mengangkut tas milik Veni. Berdua Ira, mereka mengekor di belakang Veni. Bagi Ira dan Cici, Veni adalah dewi yang membuat mereka senang. Mungkin juga bagi semua anak di kelas. Mereka tak menolak disuruh apapun oleh Veni. Sebab menolak adalah akhir dari menikmati kesenangan.
Saat melewatiku di muka pintu kelas, Veni membuang muka seakan aku makhluk yang tak sudi untuk dilihatnya. Begitulah dia.
***
Meski menjengkelkan, aku berusaha tak ingin membencinya. Aku ingat perkataan Ibu bahwa jika ada orang yang membenci kita, balas saja dengan senyum agar seolah kita tak tahu kalau dia membenci kita.
Aku melakukan itu. Setiap kali Veni bersikap sinis. Aku membalasnya dengan senyum. Walau akibatnya sikap Veni tambah menjadi-jadi. Tiga bulan lalu, aku dituduh mencuri kalung miliknya.
“Pasti kau yang mengambilnya!” teriak Veni yang membuat semua mata di kelas menatapku dengan pandangan ikut menuduh.
“Dari mana kau bisa yakin?” tanyaku berusaha tenang meski hatiku was-was.
“Coba buka tasmu!” seru Veni.
Cici yang berdiri di samping Veni sudah mendahuluiku mengambil tas-ku. Tangannya cepat membuka tas dan menumpahkan isinya ke atas meja. Ikut tergeletak juga sebuah kalung di antara tumpukan buku. Veni tersenyum penuh kemenangan.
“Lihat, apa kau masih mau menyangkal?”
Aku diam. Tak percaya melihat kalung itu keluar dari dalam tasku. Dengan lemas, aku melangkah ke ruang kepsek diiringi Bu Thea dan Veni. Lalu, Bu Thea meninggalkan kami berdua di ruangan Kepsek.
“Saya perlu penjelasanmu!” ujar Kepsek padaku dengan suara tajam.
Pandangan mata kepsek yang menghujam ke arahku membuatku ragu untuk bicara.
“Apa kamu sudah menjadi bisu?” tanyanya lagi.
Aku melirik Veni yang sekilas tersenyum kecil. Aku marah. Marah pada diriku yang selalu mau diremehkan. Aku mengangkat wajah dan balas menatap kepsek.
“Saya tak mencuri kalung itu!” kataku.
Kepsek tersenyum sinis.
“Apa kalung itu punya kaki untuk masuk ke dalam tasmu?”
Aku berusaha mencari kata yang tepat untuk melawan penganiyayaan ini.
“Tentu tidak,” jawabku setenang mungkin. “Tapi, apa Bapak pikir saya bodoh untuk menaruh kalung itu di dalam tas bila memang saya yang mencuri?”
Kepsek terdiam. Matanya masih lekat menatapku. Sebuah teror psikologis. Aku balas menatapnya dengan rasa tak bersalah. Kemudian, dia mengalihkan pandang pada Veni.
“Boleh saya tahu, kenapa kalung itu bisa lepas dari lehermu?” tanya Kepsek pada Veni.
Kulihat Veni gelagapan.
“Sa-saya melepasnya karena ada pelajaran olah raga, Pak,” jawabnya kikuk.
“Kau taruh dimana?”
“Di dalam tas.”
“Ada orang di dalam kelas saat itu?” lanjut Kepsek.
“Hanya dia, Pak,” ucap Veni sambil menunjukku.
Wajah kepsek kembali berpaling padaku.
“Ada yang bisa kau jelaskan lagi?” tukas Kepsek yang terlihat sudah kesal dengan masalah itu.
“Kebetulah saya di kelas karena sakit perut, Pak, biasa, masalah bulanan,” jawabku. “Saya tak pernah tahu kalau Veni menaruh kalungnya di dalam tas, sebab saya pikir hanya orang bodoh yang melakukan itu sementara dia tahu ada orang lain yang tinggal di dalam kelas.”
Veni terlihat merah wajahnya. Kepsek menatap saya lagi lekat seperti ingin menelan tubuh saya bulat-bulat.
“Sudahlah! Saya anggap masalah ini sudah selesai,” ucapnya kemudian. “Kalian kembali saja ke kelas.!”
“Tapi, Pak,” potong Veni tak terima.
Kepsek memandangnya tajam. “Apa lagi?”
“Apa tak ada hukuman buat dia?” kata Veni kembali menunjukku.
“Dengar, di sini bukan kantor polisi,” jawab Kepsek. “Saya tak ingin kasus ini berlanjut dan menemukan satu rekayasa di dalamnya. Kamu tahu siapa yang bakal rugi?”
Saya sedikit tersenyum melihat Veni makin merah mukanya.
“Cepat kembali ke kelas,” lanjut Kepsek. “Tapi, tunggu dulu.”
Aku kembali menatap Kepsek.
“Saya ingin kalian bersalaman dulu,” lanjut Kepsek.
“Saya nggak mau!” ucap Veni.
“Ini perintah,” sambung Kepsek. “Setidaknya kalian bisa saling berbagi maaf.”
Aku mengulurkan tanganku. Dengan ragu, Veni menyambutnya. Aku tersenyum. Veni langsung menarik tangannya dan keluar dari ruangan.
Sejak itu, Veni makin membenciku. Aku sadar itu manusiawi. Ada benci, ada cinta. Kalau sekarang ini Veni membenciku, mungkin satu saat akan berbalik. Biarlah waktu yang bicara. Lagi pula aku tak melulu memikirkan dia.
Ada banyak hal yang bisa mengisi waktu di sekolah dari pada sekedar berburuk sangka. Kelompok Cheers-ku akan turut dalam kompetisi antar sekolah se-propinsi. Jadi, aku bisa melupakan Veni dengan ikut berlatih.
Tetapi, hanya bila di luar kelas saja aku dapat menghilangkan sosok Veni dalam pikiran. Saat kembali ke kelas. Ada saja masalah yang datang. Dan selalu berhubungan dengan cewek cantik anak orang kaya itu.
“Pengumuman, pengumuman!!” seru Veni suatu hari di muka kelas.
“Berhubung kelas kita sudah menang lomba kebersihan, maka aku mengundang kalian untuk bikin pesta di rumahku!”
Semua anak di kelas bersorak. Bertepuk tangan. Ada juga yang bersuit nyaring. Termasuk Cici dan Ira yang sudah merasa akan menjadi panitia.
“Tapi, tidak semua anak akan kuundang,” lanjut Veni yang kutahu ke arah mana pembicaraannya. “Cici dan Ira akan mendata siapa saja yang akan datang.”
Cici dan Ira makin lebar senyumnya.
“Maaf, ya, sekali lagi maaf,” kata Veni lagi. “Aku bukan ingin membedakan kalian. Kalian tahu, kalau aku suka kalian semua, kecuali yang tidak kusuka tentunya.”
Sambil mengatakan itu, Veni tersenyum sinis sambil matanya melirik padaku. Maka, jelas sudah. Aku tak akan diundang datang olehnya. Terserah apa katanya. Aku toh tetap akan datang, sebab Ibu pasti akan memerlukan bantuanku.
***
Pesta yang dibuat Veni memang meriah. Maklum, Tuan Wijaya hanya memiliki satu putri semata wayang saja. Maka, apapun yang diminta Veni pasti tersedia dalam sekejap. Termasuk perayaan pesta kelas tersebut. Aku datang jauh sebelum pesta dimulai. Veni agak terkejut juga melihatku.
“Apa aku juga mengundangmu?” tanyanya.
Aku membalasnya dengan senyum sambil menunjuk pada seorang wanita cantik setengah baya yang sedang menyusun bunga.
“Kau memang tidak mengundangku,” ucapku. “Tapi, mamimu itu yang meminta ibuku datang bersamaku untuk membantu pesta anak kesayangannya.”
Veni mendengus kesal. Dia melangkah kesal menuju Ibunya.
“Mi, Kenapa Mami menyuruh anak itu datang?” serunya dengan suara yang kudengar jelas sambil menunjukku.
Nyonya Wijaya tersenyum. Dia mengatakan sesuatu pada Veni yang makin membuatnya kesal. Veni beranjak lagi menghampiriku.
“Ingat, ya, jangan coba-coba ikut bergabung dalam pesta,” tukas Veni. “Bantu saja tugas ibumu di dapur, siapa tahu kelak kau bisa menggantikan tugasnya di rumah ini.”
Kalau saja aku tak ingat dia anak majikan Ibu, sudah kutampar mulutnya. Aku diam menahan panas di dada. Diam dalam arti sebenarnya. Sebab bila salah aku bertindak akan fatal akibatnya.
Tuan Wijaya sudah begitu baik pada Ibu. Memberi Ibu pekerjaan begitu Bapak meninggal akibat kecelakaan. Meski hanya sebagai pembantu. Ibu terlihat bahagia, karena merasa tenaganya masih ada yang memerlukan. Tuan Wijaya juga yang membiayaiku sekolah di tempat mahal setara dengan anaknya. Padahal, jika disuruh sekolah di sekolah murah pun aku tak menolak. Aku tak tahu apa alasannya. Hanya dia pernah bilang….
“Aku hanya mencoba menempatkan bibit yang baik pada tempat yang juga baik.” Itu dikatakannya setelah ibu menceritakan kalau aku mendapat juara pertama lomba karya tulis dari UNICEF menjelang tamat SMP.
Aku tak menyiakan kesempatan. Aku ingin Ibu tambah bahagia kalau melihat anaknya lulus dengan nilai bagus. Kebahagiaan seperti yang pernah kulihat saat aku dapat melompati satu kelas ketika di SD. Itulah yang kuharap dan kuperjuangkan. Sebab tak mungkin aku melanjutkan belajar setamat SMA. Tuan Wijaya sudah banyak membantuku, tak mungkin aku meminta lebih. Cukuplah aku menemani Veni sampai di SMA.
“Hei, jangan melamun melulu,” tukas Ibu. “Cepat kau antar kue-kue ini ke depan.”
Aku tergeragap. Tersenyum menatap Ibu yang sedari tadi bolak-balik ke halaman belakang tempat pesta berlangsung. Aku membawa dua piring kue meninggalkan Ibu. Lalu, kembali lagi secepatnya sebelum Veni marah melihat penampakanku.
Aku melihat Ibu kelelahan. Dua orang perempuan yang juga pengurus rumah turut membantu. Aku mendekati Ibu.
“Ibu istirahat saja,” kataku. “Biar aku yang tangani semua.”
Tiba-tiba Nyonya Wijaya datang. Kedua perempuan tadi keluar dapur membawakan minuman untuk pesta.
“Lho, kamu nggak ikut bergabung dengan mereka, Prap?”
“Biar di sini saja, Tante,” jawabku sambil senyum. “Dari sini pun suara musiknya sama jelas terdengar.”
“Tapi mereka kan teman sekelasmu juga. Apa kau nggak mau ikut bersenang-senang?”
“Justru itu, Tan, dengan melihat mereka senang saya sudah ikut senang.”
Nyonya Wijaya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Entah mengerti atau tidak dia dengan perkataanku.
“Iya, Bu, biar Prapti di sini saja membantu saya,” sambung Ibu menengahi.
Nyonya Wijaya tersenyum menoleh pada Ibu dan mengangguk. Kemudian, dia berlalu. Dari kaca jendela dapur yang tembus ke halaman belakang, terlihat keceriaan dari teman-temanku. Ibu berdiri di sampingku ikut memandang keluar jendela.
“Sungguh bahagia Veni,” tukas Ibu pelan. “Beruntung keluarga Tuan Wijaya mau merawatnya, kalau tidak mungkin lain ceritanya.”
Aku menoleh pada Ibu dengan penuh tanda tanya. “Apa maksud Ibu?”
Ibu seperti tersadar. Dan menggelengkan kepala. “Tidak, tidak apa-apa.”
Aku mengejar Ibu yang sudah melangkah menjauhiku. “Ada yang aku tak tahu mengenai Veni, Bu.”
“Tidak itu bukan urusanmu,” ucap Ibu seolah menghindar.
Aku berdiri di depan Ibu. Menggenggam jemarinya ke dadaku. “Ibu bilang kita harus saling terbuka agar dapat saling mengerti.”
Ibu menatapku dengan mata berkaca-kaca. Lalu dia memelukku.
“Dia…, Veni adalah kakakmu,” bisik Ibu. “Tuan Wijaya merawatnya sejak bayi, setahun sebelum kau lahir.”
Aku lemas. Aku memandang ke luar jendela. Aku melihat sosok Veni sedang tertawa ceria di kejauhan.
*****
(Dimuat Kawanku #15/ 9-15 April 2007)







No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...