Pages

26 February, 2011

Sahabat

Kemarin, Jumat, 25 Februari 2011, saya mengunjungi dua sahabat. Dua sahabat yang meski bertempat tinggal jauh dari kediaman saya . Namun, selalu dekat dalam ikatan emosi. Dua sahabat itu adalah Taufan E. Prast dan Iwan Setiawan.



Taufan sedang mengalami satu situasi berat yang harus dihadapinya. Ibundanya meninggal dunia di Kamis, pk. 18.31 WIB, setelah hampir 1 bulan dirawat di rumah sakit. Berat dalam artian, wanita itu telah memberi begitu banyak inspirasi pada sahabat saya itu. Bahkan di saat ikut menshalatinya di mesjid kompleks perumahannya. Saya menemukan bahwa betapa ibunda teman saya itu sangat dihormati bukan hanya dalam sikap keseharian, tapi juga merupakan donatur tetap mesjid dalam kegiatannnya. Jelas terlihat sifat berbaginya dan mengerti untuk apa harta didapat.




Sahabat saya yang satu lagi, Iwan Setiawan. Dia pun sedang mengalami cobaan. Mendadak di Rabu, pk 02.00 WIB mengalami sakit kepala dan saat dilarikan ke rumah sakit berlanjut menjadi koma. Usut punya usut dari hasil pemeriksaan medis, sahabat saya itu mengalami pendarahan di otak. Dan sampai Jumat kemarin, saya melihat sisi kiri tubuhnya belum juga bisa bereaksi. 


Dari cerita orang tuanya, menurut dokter, pendarahan itu terjadi di bagian tengah otak kepalanya yang memisahkan otak bagian kiri dan kanan.


Iwan masih mengenal saya. Masih bisa menyapa anak saya, Sasha. Bahkan mengajaknya menyanyi dalam ketidaksadaran normalnya. Namun, hanya sebatas itu. Saya sedih melihatnya. Dalam hati saya memohon Allah SWT mengangkat penyakitnya dan membiarkan dia aktif seperti semula.




Kemarin, saya sudah mengunjungi dua sahabat. Kunjungan yang menyadarkan saya bahwa apa pun bisa terjadi setiap saat. Penyakit dan ajal hanya datang dari-Nya. Saya merasa betapa berharganya kesehatan dan betapa saya harus siapa dalam menghadapi kematian.

1 comment:

  1. catatan yg sangat mengingatkan. Thx udah sharing...

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...