Pages

01 March, 2011

NGIDEM GAWE

Cerpen: Sokat
Kepala Kantor datang memanggil begitu saya sampai di kubikel saya. Masih pagi. Masih sepi. Saya beranjak menuju ruangannya. Kepala kantor menatap saya dari mulai masuk hingga duduk di bangku di seberang mejanya. Wajah Kepala Kantor begitu serius. Ada rasa gelisah di tatap matanya.
“Bagaimana hasil pemeriksaanmu kemarin?” tanyanya.
Rupanya itu. Kepala Kantor ingin tahu juga hasil pemeriksaan dari pajak satu perusahaan yang kemarin  saya lakukan.
“Buruk, Pak,” ucap saya. “Saya menemukan ada ketidakcocokan antara laporan tertulis dengan kenyataan di lapangan.”
Wajah Kepala Kantor terlihat tegang.
“Saya sudah siapkan berkasnya untuk ditindaklanjuti.”
Saya melihat senyum di bibir Kepala Kantor. Agak dipaksakan.
“Ya, sudah. Biarkan kasus itu diurus Talib, kamu istirahat saja.”
“Tapi, Pak….”
Kepala Kantor tak menanggapi ucapan saya. Dia malah menyuruh saya keluar dari kantornya. Selalu begitu. Setiap saya selesai memeriksa sebuah perusahaan dan menemukan hasil yang menyimpang, pasti akan dilimpahkan ke orang lain.
Saya tahu. Saya mengerti. Kasus itu memang tak akan muncul kepermukaan. Tapi, haruskah terus begitu? Memang selalu. Saya tak bisa menolak. Biar protes, tapi cuma di hati. Lebih dari lima belas tahun saya melakukan itu. Protes dalam hati.
Saya kembali ke kubikel saya. Talib lewat tempat saya. Rekan kerja saya itu yang berkali-kali kelimpahan tugas mengurus hasil laporan saya  Namun, tak terlihat keluh kesahnya. Malah wajahnya makin sumringah. Dia menoleh pada saya dan tersenyum.
“Kapan kamu ada waktu senggang?” tanyanya.
“Tiap hari minggu saya tak banyak kegiatan.”
“Maukah kamu bila saya ajak memancing?”
“Mancing ikan?”
“Tentu saja. Apa kamu suka juga memancing yang lain?”
Saya tertawa. “Tapi, saya tak punya alat pancing.”
“Jangan khawatir. Saya punya banyak. Kamu bisa memakainya.”
“Jadilah kalau begitu.”
Talib pun berlalu. Selesai makan siang Kepala Kantor memanggil saya kembali. Saya pun menemuinya di ruangannya
**
“Bodoh!!!” Istri saya berteriak lantang setelah mendengar penuturan saya usai di panggil Kepala Kantor untuk yang kedua kali.
“Saya kira tidak.”
“Apanya yang tidak? Kamu itu sudah seenaknya saja dipindahtugaskan. Kamu tak punya masalah. Kamu harus protes!” seru istri saya makin keras.
Saya hanya diam memandangi wajah istri saya yang merah padam. Saya tak ingin dia tahu alasan apa yang membuat saya dimutasi. Istri saya ikut-ikutan mendiami saya sampai beberapa hari. Saya jadi tak tahan juga. Untunglah, di hari Minggu Talib datang memenuhi janjinya untuk mengajak saya memancing. Saya jadi dapat melupakan kesuntukan.
“Kemana anakmu?” tanya Talib celingak-celinguk.
Talib ini sudah menikah sepuluh tahun tapi belum juga mendapat momongan. Makanya dia selalu senang dengan anak-anak. Di rumahnya juga ada seorang anak. Anak kakaknya yang diajak tinggal di situ.
“Mereka sedang main. Biasalah kalau libur sekolah memang begitu,” kata saya menjelaskan perihal kedua anak saya..
“Kamu bebaskan saja anakmu bermain?”
“Ya, kalau dibatas-batasi, nanti malah jadi antisocial, nggak kenal sama tetangga.”
Talib terkekeh. Saya meninggalkannya untuk berganti baju. Kemudian begitu siap, kami pun pamit pada istri saya.
“Hampir lupa,” ucap Talib. “Ini. Buat jajan anakmu.”
Talib memberikan amplop putih kepada saya. Tanpa pikir panjang saya mengopernya ke istri saya. Lalu kami berangkat. Naik mobil Talib tentunya. Mobil baru, sebab masih wangi.
“Hebat sekali mobilmu,” komentar saya. “Pasti mahal harganya.”
Talib tertawa. “Ini sekedar menikmati hasil kerja.”
Kedudukan Talib di kantor dua tingkat di atas saya. Padahal dulunya sama. Tapi tahu-tahu dia bisa melesat seperti kancil. Sedang saya bagai siput. Tetap diam di posisi yang sama seperti saat kami sama-sama baru masuk dulu.
“Tapi hasil kerja yang saya dapat tak sedasyat punyamu,” sambung saya.
Tawa Talib makin keras.
Begitulah. Hampir setiap minggu, Talib datang ke rumah dan mengajak saya memancing. Minimal dua kali sebulan kami melakukan itu. Berkali pula, Talib memberikan pada saya sebuah amplop putih yang tak kosong, sebelum kami berangkat. Dengan pesan.: “Buat jajan anakmu.”
Saya pun makin menikmati pekerjaan di posisi baru. Sampai satu siang Kepala Kantor memanggil saya untuk menghadap ke ruangannya.
“Apa apa, Pak?” tanya saya yang heran karena kini tugas saya tak lagi langsung berhubungan dengannya.
Kepala Kantor tersenyum memandangi saya. “Saya hanya mau tahu, apa kamu kerasan di posisi kerja barumu?”
“Apa lagi yang dapat saya lakukan selain berusaha untuk itu,” ujar saya.
“Apakah kamu tak tertarik dengan kelebihan hasil yang didapat orang-orang di sekitarmu?”
“Tertarik pasti. Tapi, saya tak berani mengambil yang bukan hak saya.”
Kepala Kantor tertawa. ”Kamu ini munafik, Ridwan.”
Saya kaget, baru kali ini kata itu ditujukan kepada saya.
“Apa yang Bapak maksud?”
“Apakah benar, selama ini Talib memberimu uang?”
Saya bingung. Mungkin yang dimaksud Kepala Kantor adalah uang dalam amplop itu. Yang selalu Talib berikan pada saya sebelum berangkat memancing.
“Ya, tapi itu katanya buat jajan anak saya.”
Tawa Kepala Kantor makin keras dan sumbang. “Terserah apa katamu, namun kau harus tahu uang itu juga adalah hasil dari proyek saling senang antara kita dan beberapa perusahaan.“
Saya hampir muntah. Rupanya uang itu juga mengandung duri. Kasihan anak-anak saya. Darah saya seolah tak ada di wajah. Dari pantulan kaca jendela di belakang Kepala Kantor, saya melihat wajah saya pucat bagai mayat.
Kepala Kantor tertawa melepas kepergian saya dari ruangannya.
**
“Kenapa wajahmu?” sambut istri saya di rumah.
Semua apa yang saya alami di ruang Kepala Kantor menggelosor dari mulut saya. Saya sedih. Prinsip saya untuk tak sampai menyentuh uang berduri telah hancur. Saya makin sedih karena anak-anak saya juga memakan uang itu. Kedua anak saya itu memakan duri. Istri saya terlihat geram. Dia masuk ke kamar. Dan tak lama keluar lagi.
“Kalau begitu, cepat kamu kembalikan amplop-amplop ini!”
Saya terperangah. Di tangan istri saya ada banyak amplop putih. Amplop yang pernah diberikan Talib padaku.
“Kamu masih menyimpannya?”
“Uang kita masih cukup membiayai hidup kita tanpa perlu menyentuh uang ini.”
Saya tersenyum pada istri saya. Memeluknya. Bahagia saya memilikinya.

*****
Nusa Indah9



No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...