Pages

14 September, 2011

Nasi Goreng Tepi Jalan

Setiap pulang menuju rumah dari kantor istri pasti waktunya sudah tak jauh dari Maghrib. Jadi, sering kali terdengar suara azan Maghrib saat kali masih berada di jalan dan tak jarang tengah larut dalam kemacetan lalu lintas.
Kalau merasa bisa melaksanakan Maghrib di rumah, saya akan terus menarik gas motor agar segera sampai di rumah. Namun, kalau enggan melakukan itu, kami akan mampir di masjid terdekat.

Masjid persinggahan
      Setelah shalat Maghrib di satu masjid, kami selalu menyempatkan diri untuk mencari makanan pengisi perut. Lantaran, jalur jalan kami lebih sering adalah daerah Kemanggisan atau Daan Mogot, maka di sekitar dua jalan itulah kami mencari sesuatu untuk memanjakan selera mulut.
Meski banyak mal yang kami lalui, tapi jajanan di tepi jalan yang sering kami kunjungi. Sebab jalan di mal tanpa Sasha dan Saskia terasa kurang nikmat. Memang di mal ragam makanannya lebih banyak pilihan, namun jauh lebih asyik menikmati makanan sambil melihat lalu-lalang kendaraan. Sudah begitu tidak repot harus parkir motor yang kadang tempatnya berada di luar mal.
Salah satu makanan yang kami sukai adalah masakan china seperti capcay. Menurut kami rasa capcay di pinggir jalan kadang jauh lebih enak ketimbang yang ada di mal. Maka, sering kami mampir di penjual nasi goreng yang menyediakan menu capcay.
Seperti pada malam ini, kami memarkir motor di dekat penjual nasi goreng selepas shalat Maghrib. Digerobak depan nasi goreng itu terpasang spanduk berbunyi, “Nasi Goreng Barokah Sedap Malam.”

Memilih menu
      Gerobak nasi goreng itu ada tak jauh dari pertigaan jalan Kemanggisan dan jalan Budi Raya sebelum SMAN 78 Jakarta Barat.
Dalam menu yang tersedia ada sebelas varian nasi goreng, 2 jenis mie, 2 macam kwetiau, serta menu bihun dan capcay yang tersedia dengan digoreng atau rebus. Semua menu itu dipatok harga yang berkisar antara Rp 9.000,- sampai Rp 14.000,-. Untuk minumannya dihargai dengan Rp 1.000,- sampai Rp 4.000,-.
Saya sendiri sering berganti menu untuk merasakan semua sajian yang ada. Pada kesempatan ini, makan malam saya yang sekaligus adalah buka puasa sunah adalah nasi goreng bakso sosis dengan es teh tawar.
Nasi goreng Bakso sosis

Sedangkan istri saya memilih capcay goreng dengan teh hangat. Capcay goreng di sini berbeda dengan di tempat lain. Kalau di tempat lain dalam sajian capcay goreng itu masih terdapat sedikit kuah, kalau di sini kering sama sekali.

Capcay goreng

Makan berdua seperti itu, sudah kami lakukan sejak belum memiliki buku nikah. Sudah banyak tempat yang kami kunjungi, bahkan sekarang kalau sedang berdua kadang masih suka ada orang yang memperhatikan kemesraan kami. Mungkin mereka mengira kami masih pacaran. J [sr]

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...