Pages

17 February, 2013

Gambar Anto

Cerpen : Sokat Rachman

Foto gambar anak

Hari itu, kelas V B mendapat pelajaran menggambar dari Pak Tino. Pelajaran yang paling disukai oleh Anto. Apalagi Pak Tino selalu memberi contoh untuk menggambar dari satu bentuk benda.
“Sekarang kita menggambar kucing dari bentuk lingkaran,” kata Pak Tino memulai pelajarannya.
“Lingkaran kecil atau besar, Pak?” tanya Anto sambil mengangkat tangan.
“Kalian boleh memakai keduanya,” jelas Pak Tino.
Dan anak-anak dengan semangat mengikutinya. Pertama, Pak Tino membuat lingkaran kecil, lalu lingkaran yang agak besar di bawahnya. Di atas lingkaran kecil diberi segitiga di kanan dan kirinya, juga dibuat dua lingkaran yang lebih kecil lagi di dalam lingkaran itu. Maka jadilah mata dan telinga kucing.
Lingkaran yang besar itu pun menjadi badan kucing setelah diberi bentuk kaki dan ekor. Semua anak senang dengan hasilnya.

“Kalian boleh mewarnai kucing itu sesuai selera kalian,” tambah Pak Tino.
Anto mewarnai kucingnya dengan warna biru. Pak Tino yang melihat hal itu langsung bertanya.
“Kenapa kamu memberi warna biru pada kucingmu?” tanya Pak Tino.
“Supaya tidak tertukar dengan kucing milik Imung berwarna hitam,” jawab Anto sambil tersenyum malu.
“Bagus, bagus,” ucap Pak Tino sambil manggut-manggut tersenyum.
Anto semakin senang. Dia pun segera meneruskan gambarnya.
“Bagi yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Pak Tino beberapa saat kemudian.

Anto dengan semangat membawa gambarnya ke meja Pak Tino. Begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Dan begitu pulang, Anto segera memamerkan hasil karyanya pada mamanya di rumah.
“Apa itu, Anto?” tanya Mama tak mengerti.
Sambil tersenyum, Anto membuka lembar kertas gambar yang digulungnya.
“Ini gambar kucing buatan Anto.”

Dengan dahi berkerut, Mama memperhatikan kertas gambar yang dibentangkan Anto.
Kok warnanya biru?” kata Mama.
Kalau warnanya hitam itu kucing punyanya Imung,” jawab Anto.
Kamu dapat nilai A?” tanya Mama.
Iya.
Hebat anak Mama,” seru Mama sambil mengucek-ucek kepala Anto.
“Anto boleh memajang gambar ini, Ma?” tukas Anto kemudian.
“Untuk apa?” tanya Mama heran.
Biar orang lain yang datang bisa melihat gambar Anto.”
“Kau mau taruh dimana?”

Anto menoleh pada satu dinding ruang tamu. “Dekat foto Anto, ya, Ma.”
“Terserah kau saja.”
Anto tersenyum senang. “Anto akan minta Papa untuk membelikan bingkai untuk gambar ini.”
Mama hanya geleng-geleng kepala melihat anak lelaki semata wayangnya yang melangkah meninggalkannya.
***
Selang beberapa hari, saat mama masuk kedalam kamar Anto, Mama langsung terhenyak. Matanya terbelalak lebar menatap ke satu dinding kamar.
Dinding berwarna putih di samping tempat tidur Anto tidak lagi kosong seperti biasa. Kini, di dinding itu sudah ada bermacam gambar dengan beraneka warna pula.

Ada gambar gunung dengan sawah dan matahari. Juga ada gambar mobil yang berderet memanjang. Di sampingnya, terdapat gambar laut dengan perahu nelayan yang berwarna-warni. Di sebelahnya lagi, ada gambar hewan yang mirip kuda sedang berdiri dengan kaki depan yang terangkat ke atas.
Mama melihat semua gambar itu dengan perasaan yang campur aduk antara kesal dan marah.
“Anto!!!” geramnya.
Mama pun tak jadi membereskan kamar Anto.
***
“Pokoknya Mama tidak suka melihat kamarmu kotor seperti itu!” tukas Mama begitu Anto pulang dari sekolah.
“Tapi.”
“Mama sudah membelikan buku gambar buat kamu menggambar!”
“Tapi….”
“Tidak ada tapi-tapian,” potong Mama. “Kamu harus membersihkannya! Titik.”
Anto hanya bisa diam. Sejak itu semangat Anto untuk menggambar hilang sama sekali. Saat pelajaran mengambar di sekolah pun Anto tak membuat gambar.

“Kenapa kau tidak menggambar, Anto?” tanya Pak Tino.
Malas, Pak,” jawab Anto.
“Itu tidak bagus, Anto,” lanjut Pak Tino.
Tapi Anto memang sudah benar-benar tak lagi ingin menggambar. Itu berlangsung sampai di satu Minggu pagi.
“Anto!!!”
Anto terbangun kaget oleh suara papanya.
“Papa punya sesuatu untukmu,” tukas Papa.

Dengan malas, Anto bangkit dari tempat tidur dan mengikuti langkah Papa. Mereka menuju halaman belakang.
TRENEEEEEENG!!!” ucap Papa semangat sambil menunjuk ke tembok pagar halaman yang membatasi dengan rumah tetangga.
Anto termangu tak mengerti.
“Lihat tembok putih itu?” tanya Papa.
Anto manggut.

“Sekarang kau bisa sepuasnya menggambar di sana!” seru Papa.
“Dan ini perlengkapan yang kau butuhkan,” kata Mama yang tiba-tiba datang membawa crayon dan cat air.
Mata Anto berbinar cerah. Dia langsung memeluk Papa dan Mamanya.
Sejak saat itu, Anto semangat lagi untuk menggambar. Kalau tembok itu sudah penuh oleh gambar yang dibuatnya, papanya akan mengecatnya dengan warna putih. Dan Anto akan kembali menghias tembok itu dengan gambar-gambarnya. Mamanya pun tak lagi marah.
*****
Nusaindah9

(Bobo No. 02/ tahun XL/ 19 April 2012)

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...