Pages

21 January, 2014

Tak Pernah Ingkar Janji

gambar-burung-merpati

Eron, si burung merpati, menatap Alvin yang hinggap di luar sarangnya. Alvin, burung nuri berbulu hijau, terlihat kesal siang itu.
“Kamu sudah bohong padaku, Eron!” ucap Alvin dengan nada kecewa.
Eron diam, dia tahu kalau Alvin akan mengatakan itu. Kemarin Alvin ulang tahun dan Eron tak bisa datang.
“Maafkan aku,” ucap Eron, “kemarin aku harus ke tempat ibuku yang sedang sakit.”
“Dan kau lupa pada janjimu?” lanjut Alvin dengan kesal.
“Aku tidak lupa,” lanjut Eron, “tapi aku memang tak bisa datang ke tempatmu.”
“Kau hanya alasan saja!”
Eron diam. Dia tahu Alvin kesal padanya.
“Sudah kuduga, janjimu tak bisa kau tepati!” ucap Alvin yang langsung pergi meninggalkan Eron.
“Alvin!” seru Eron.
Eron melihat Alvin tak memedulikan panggilannya. Alvin terbang cepat sampai hampir saja menabrak batang pohon. Eron cemas melihat Alvin yang terbang sendiri sampai hilang di balik rimbun pepohonan hutan. Hatinya menjadi gelisah mengingat perkataan Alvin, janjimu tak bisa kau tepati!
Aku bukan pembohong! Cetus Eron dalam hati. Aku harus menepati janjiku pada Alvin.
Eron baru saja ingin pergi, tapi tak jadi sebab Karin, seekor Robin, melayang datang mendekatinya. Burung kecil yang lincah itu hinggap di ranting dekat Eron.
“Kamu mau pergi?” tanya Karin.
“Ya,” ucap Eron.
“Maukah kau menolongku sebentar sebelum pergi?” tanya Karin.
“Dengan senang hati,” ucap Eron tersenyum.
Karin tersenyum dan terbang lagi dengan diikuti oleh Eron. Sambil melayang mengikuti arah Karin, Eron masih teringat perkataan Alvin, janjimu tak bisa kau tepati!
“Eron!” seru Karin yang melihat Eron terbang salah arah.
Eron membelokkan arah terbangnya dan hinggap dekat Karin.
“Maaf, aku tak memperhatikanmu,” katanya.
“Kamu memikirkan sesuatu?” tanya Karin merasakan kegelisahan Eron.
“Aku punya janji pada Alvin yang belum kupenuhi,” katanya kemudian.
Karin ikut terdiam sambil memperhatikan Eron.
“Apa penting buatmu untuk memenuhi janji itu?” tanya karin lagi.
“Ya.”
“Kalau begitu penuhilah janjimu,” tukas Karin.
Eron menatap Karin dengan bingung.
“Bagaimana dengan kau? Bukankah tadi kau butuh bantuanku?”
Karin tersenyum.
“Tadinya, aku butuh bantuanmu untuk membangun sarangku yang baru,” tukas Karin. “Tapi, sekarang aku akan menunggumu setelah selesai dengan Alvin.”
Eron tersenyum.
“Pergilah,” ucap Karin.
Eron mengangguk dan mengepakkan sayapnya terbang meninggalkan Karin. Eron menuju pasar Kota Burung. Eron hinggap di sebuah toko kacamata. Dia memang pernah janji pada Alvin untuk membelikan kacamata yang diinginkannya.
“Kacamata itu sudah tak ada,” tukas Owlis, si burung hantu yang sudah tua. “Kalau mau, kau bisa mencarinya di pabrik kacamata itu.”
Eron diam memikirkan perkataan Owlis. “Kau mau menunjukkan alamatnya?”
Owlis mengangguk. Lalu, Eron terbang menuju pabrik kacamata. Dia harus melewati sungai yang besar dan padang rumput yang luas untuk sampai di sana menjelang sore.
“Kami sudah tidak membuat kacamata seperti itu lagi,” tukas Harmes, si bangau putih, pemilik pabrik kacamata itu.
Eron kecewa tak bisa mendapatkan kacamata yang diinginkan Alvin. Harmes memperhatikan Eron.
“Sebenarnya anakku punya kacamata itu,” tukas Harmes, “dia memiliki seri pertamanya.”
Eron berpaling pada Harmes dengan antusias.
“Boleh kutemui anakmu?” tanya Eron, “kalau dia sudah bosan memakai, aku akan membelinya!”
“Anakku sudah tiada,” ucap Harmes pelan.
Eron terkejut. “Maafkan aku.”
Harmes tersenyum.
“Aku akan memberikan kacamata itu padamu,” kata Harmes. “Namun, aku butuh bantuanmu.”
“Katakan apa yang harus kulakukan?”
“Aku ingin kau membawakan obat untuk istriku yang kini ada di rumah orangtuanya di pinggir kota,” tukas Harmes.
“Kenapa bukan kau yang ke sana?”
“Aku sudah tak kuat terbang cepat,” ungkap Hermes. “Kalau aku yang membawanya, pasti akan terlambat sampai di sana.”
Demi kacamata yang diinginkan Alvin, Eron setuju membantu Harmes walaupun jarak tempat akan dituju sangat jauh.
“Terima kasih atas bantuanmu,” ucap Hermes.
“Aku yang seharusnya mengatakan itu padamu,” balas Eron.
“Ini kacamatanya,” lanjut Hermes, “semoga berguna untukmu.”
Eron tersenyum senang. Kemudian, dia terbang menuju tempat istri Hermes untuk menyerahkan obat padanya. Perjalanan yang panjang dan melelahkan membuat Eron baru tiba di sarang Alvin keesokan paginya.
“Mau apa kau kemari?” tanya Alvin sebal melihat Eron ada di sarangnya.
“Aku hanya akan memberimu ini,” Eron memperlihatkan kacamata pada Alvin.
Alvin terlihat kaget. “Kau tidak sedang mempermainkan aku?”
“Aku serius!” tandas Eron. “Ambillah!”
Alvin menerima kacamata itu dan memakainya.
“Aku bisa melihat jelas sekarang!” seru Alvin gembira.
“Maafkan aku kalau terlambat memberikan itu padamu,” ucap Eron.
“Aku yang harus minta maaf sebab sudah marah-marah padamu,” tukas Alvin malu.
“Aku sudah melupakannya,” balas Eron, “yang penting kau tahu, aku tak pernah ingkar janji!”

Alvin tersenyum mengangguk. Eron membalas senyumannya sebelum terbang meninggalkan Alvin. Dia senang sudah bisa menepati janjinya. [sr]

1 comment:

  1. Menepati janji salah satu karakter yang harus ditanamkan pada anak.

    Jannji adalah kehormatan, menjaganya sekuat yang bisa diusahakan.
    sukses!

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...