Pages

26 March, 2016

Mengenal Lebih Dekat Bentuk Skenario

Sebuah Film dibuat berdasarkan runtunan cerita yang saling menyambung membentuk logika dramaturgi.


Bingung, ya?


Begini, cerita yang kita lihat di setiap film, pasti dimulai dengan pengenalan tokoh, lalu ada konflik, kemudian konflik berlanjut yang bersinggungan dengan banyak orang, lalu... Duar!


Tokoh utama menang melawan tokoh jahat, baik secara fisik, atau berkaitan dengan ekonomi, atau hukum.


Selesai.


Itu yang disebut alur dramaturgi.


Konsep dramaturgi pertama kali dicetuskan oleh Aristoteles sekitar 335 SM dalam teori drama yang dikenal dengan Poetics, teori itu memuat aturan drama tiga babak yang sampai sekarang masih dipakai dalam membuat cerita.



buku01 
Bahan bacaan (Dok. Pribadi)

Sebelum makin pusing, saya akan kembali dulu ke topik awal, yaitu pengenalan bentuk skenario.
Skenario dipakai oleh pembuat Film (saya menuliskan kata Film dengan huruf “F” besar adalah sekedar untuk membedakan dengan film sebagai media foto atau kamera yang terbuat dari seluloid), sebagai petunjuk berupa teks cerita dari awal sampai akhir, yang kemudian dipindahkan ke media visual dengan kreasi sutradara.


Media visual yang dimaksud adalah segala sesuatu yang bisa dilihat oleh mata pada layar bioskop atau tv.


Misbach Yusa Biran dalam bukunya Teknis Menulis Skenario Film Cerita (2006: 31) Unsur yang membentuk media visual  itu adalah, aktor, set, properti, dan cahaya menurut penataan tertentu.


Masih bingung juga?


Baiklah, sebelum dilanjut, saya kutipkan beberapa pendapat dari para pakar penulis skenario. Mereka mengatakan skenario sebagai:


Alan Armer: “A blueprint for a movie.”


Syd Field: “A story told with pictures.”


Viki King: “A feature screenplay is ad document you can create in 21 days.”


Misbach Yusa Biran: “Disain penyampainan cerita atau gagasan dengan media Film).


Linda Seger: “Five things: the story lines, the characters, the underlying idea, the images, and dialog.”


Nah, ada bermacam teori kan tentang skenario?


Sederhananya, skenario yang dibuat oleh penulis skenario adalah acuan (Blueprint) dasar bagi sutradara untuk berkreasi membuat Film.


Sebagai Acuan Dasar


Skenario sebagai acuan dasar atau blueprint dalam membuat film membuat penulisan skenario bersifat teknis.


Artinya, teknik penulisannya berbeda dengan karya prosa, seperti cerpen atau novel.


Skenario ditulis secara filmis, yakni bisa diterapkan oleh sutradara dalam bahasa visual Film.


Jadi, ketika menulis skenario jangan dengan bahasa cerpen atau novel.


Misalnya, Matanya yang tajam seperti mata elang melihat musuhnya dari balik kaca mobil.


“Matanya yang tajam seperti mata elang”, agak sulit digambarkan dengan visual, tapi kalau diganti dengan ”Dia melihat musuhnya dari balik mobil” menjadi lebih mudah dieksekusi dalam produksi.


Skenario punya tipe yang berbeda dengan karya sastra sebab, sekali lagi, skenario bukan karya sastra dan memang tidak diperuntukan untuk dibaca bebas oleh orang selain mereka yang butuh untuk keperluan produksi Film yang bersangkutan.


“Tidak bebas dibaca” maksudnya, ketika skenario itu dibuat tujuannya adalah untuk produksi film, bukan dinikmati sebagai bacaan seperti cerpen atau pun novel.


Bisa saja sehabis produksi, skenario itu ditumpuk begitu saja atau malah terbuang sebab sudah tak terpakai.


Maka dari itu, tidak ada skenario yang dijual sebagai buku bacaan.


Kalau pun ada, itu hanya efek dari sebuah film yang laris manis di pasaran.



buku02 
Tambahan wawasan (Dok. Pribadi)


Kemudian untuk menjawab rasa penasaran penontonnya, lalu bagian promosi film atau penerbit yang jeli membeli hak skenario itu dan diterbitkan menjadi sebuah bacaan.Sebagai acuan dasar tentu saja cara penulisan skenario harus mudah dicerna oleh semua divisi dalam produksi film.


Mereka yang akan membaca skenario itu adalah produser, sutradara, DOP (Director of Photography), Director of art, divisi Wardrobe, Kepala unit, dan artis.


Mereka semua berkepentingan mengetahui detail dari skenario untuk menyamakan persepsi atas kebutuhan yang diperluan untuk produksi Film tersebut.


Tiap SCENE yang ada dalam skenario akan di-break down satu per satu oleh sutradara dan krunya.


Sutradara akan menerjemahkan deskripsi scene tersebut menjadi sebuah gambar yang pas sesuai dengan teks.


Bagian artistik akan “membongkar” tiap scene untuk menentukan properti yang dibutuhkan.


Hampir sama dengan bagian wardrobe yang menginterpretasikan tiap scene untuk menentukan kostum tiap pemain.


Aktor akan menafsirkan adegan dengan miki wajah dan gestur tubuh yang pas dengan dialognya.


Sedangkan DOP akan menerjemahan scene berdasarkan sudut pandang kamera, sehingga pas komposisinya di frame.


Frame itu ada “batas” sebuah adegan yang bisa dilihat penonton, kalau di bioskop yang seluas layar bioskop, kalau tv, ya, seukuran kotak layar tv itu.


Itulah fungsi skenario, acuan dasar bagi sutradara dan kru untuk berkreasi membuat sebuah tontonan Film.



Bentuk Skenario



Sebagai sebuah acuan dasar dan sifatnya adalah tulisan teknis, skenario punya ciri tersendiri dalam penulisannya.


Dari mulai ide ditemukan sampai menjadi skenario final merupakan tahapan yang dilalui seorang penulis dalam membangun struktur skenario.


Di atas sudah saya katakan kalau skenario terbentuk dari scene-scene yang secara berututan membentuk sebuah cerita.


Cerita dari awal sampai akhir, dari pengenalan pemain sampai pertarungan hidup-matinya tokoh baik.


Dalam tiap scene ada beberapa istilah yang dipakai untuk menandai masing-masing bagian, yaitu:




  1. Scene Heading: Bisa dikatakan sebagai kepala SCENE

  2. Nomor Scene: Nomor yang ada di depan scene heading

  3. Deskripsi: Berisi keterangan adegan dalam scene itu.

  4. Nama toko: Disesuaikan kalau ada dialog oleh tokoh tertentu.

  5. Dialog: Disesuaikan kalau ada dengan tokoh yang mengucapkan.

  6. Transisi: Tanda berakhirnya scene untuk pindah ke scene berikutnya.

Untuk lebih jelasnya, lihat contoh potongan scene dari skenario “Nagabonar” berikut ini:
foto-contoh-skenario
Contoh Skenario (Dok. Pribadi)

Penjelasannya adalah sbb:
  1. 65 = Adalah nomor scene adegan itu.

  2. RUMAH KIRANA – MALAM = Adalah scene heading

  3. INT. = Menunjukkan keterangan tempat, yaitu interior: di dalam ruangan, kalau lokasi di luar ruangan bisa memakai exterior = EXT.

  4. RUMAH KIRANA = Menunjukkan set

  5. MALAM = Menunjukkan waktu


Kalau tidak ada yang khusus, pembagian waktu skenario hanya MALAM dan SIANG.


Siang dibatasi dari pukul 06.00 – 18.00 dan malam sejak pukul 18.00 – 06.00.

  1. Nagabonar duduk berhadapan dengan Kirana.... = Deskripsi adegan.

  2. Kirana = Nama tokoh yang mengucap dialog

  3. Kau jangan terlalu sedih. = Dialog yang diucapkan Kirana.


Dalam skenario ini tidak ada tertulis tanda transisi, tapi ketika di bawahnya adalah scene berikutnya itu artinya transisi scene hanya berupa CUT TO:


Demikianlah bentuk dari sebuah skenario.


Di Hollywood sana, penulis skenario selalu menggunakan satu sotfware yang menjadi rujukan semua penulis, yakni Final Draft (FD).


Konon, satu halaman skenario dengan format FD akan menjadi satu menit tayangan, jadi kalau ingin membuat Film bedurasi 90 menit, harus menulis sepanjang 90 halaman.


FD juga memudahkan sutradara dan kru untuk mem-breakdown skenario.


Pemakaian format FD memang untuk memudahkan produksi.


Untuk penulisannya juga lebih mudah sebab sudah terformat dengan baik.


Di Indonesia, ada beberapa Production House yang sudah menggunakan format FD dalam menerima skenario.


Namun, ada juga PH dan stasiun tv yang masih menerima skenario dalam format MS Office word.


Word tersebut dibentuk berdasarkan format skenario yang ada pada umumnya.


Jadi, soal format bisa disesuaikan dengan PH atau stasiun tv yang akan memproduksi skenario kita menjadi Film.


Demikian saya akhiri bahasan soal mengenal bantuk skenario, semoga bermanfaat. [sr]

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...