Pages

10 March, 2016

Cerpen Payung-payung Centil

Oleh: Sokat

Hujan turun pagi-pagi. Anto yang bersiap akan berangkat ke sekolah menjadi urung. Mau tak mau, ia mesti menggunakan payung untuk dapat meneruskan niatnya ke sekolah tanpa kehujanan. Padahal, ia sudah segan membawa payung.


Semua teman laki-lakinya di kelas, tak ada lagi yang membawa payung. Kebanyakan dari mereka lebih memilih memakai jas hujan bila hari pas hujan. Atau bagi yang tak punya, kadang mesti berlari-lari dengan pelindung seadanya. Kadang dengan plastik atau koran, yang pasti bukan payung. Jadi, hanya anak perempuan saja yang lebih banyak datang dengan payung ke sekolah saat hari hujan.

Itulah sebabnya Anto agak malas untuk memakai payung. Teman-temannya, terutama Bidin, pasti dengan suka cita akan mengejeknya.

“Ciee…, masih suka pakai payung nih, kayak anak perempuan saja.” Begitu kata Bidin saat mereka bertemu di jalan menuju sekolah waktu hujan juga turun pagi-pagi tempo hari.

“Iya nih, mana payungnya warna-warni lagi, centil banget deh!” timpal Doni yang berjalan beriringan dengan Bidin memakai jas hujan.

Anto jelas sewot. Ia tak sudi disama-samakan dengan anak perempuan, apalagi payungnya dibilang centil hanya karena berwarna-warni kayak pelangi. Tapi ia cuma bisa marah di dalam hati saja. Karena percuma kalau kedua anak itu mesti diladeni, nantinya mereka malah menjadi-jadi.

Maka tak ada pilihan lain bagi Anto selain diam. Melangkah cepat biar tidak terus menerus mendengar celotehan mereka. Meski begitu, ada juga keinginan di hati Anto untuk dapat memiliki jas hujan seperti mereka. Kata hatinya itu pernah disampaikan kepada ibunya.

Sayang, ibunya belum dapat segera meluluskan permintaannya. Itu dikarenakan ayahnya belum memiliki uang lebih untuk keperluan tersebut. Lagipula ibunya malah menyarankan agar ia menggunakan payung yang ada. Kata Ibu, sayang kalau punya payung tidak digunakan, jadi mubajir saja.

Seperti pagi ini, sebenarnya Anto sudah diam-diam ingin berangkat ke sekolah tanpa membawa payung. Cukup dengan memakai topi saja. Toh hujannya tidak begitu deras. Namun, niatnya itu tidak kesampaian begitu ibunya keluar kamar dan memergokinya saat ia hendak beranjak.

“Kamu tidak pakai payung?” tegur Ibu. “Cepat ambil sana, nanti kalau kamu kehujanan malah sakit jadinya.”

Maka dengan penuh rasa enggan, Anto pun beringsut mengambil payung. Sudah terbayang di matanya, Bidin dan Doni akan kembali meledeknya bila nanti bertemu di sekolah. Dan Ibu seperti dapat membaca perasaan Anto.

“Kamu tidak suka memakai payung, ya?” tanya Ibu. “Bukannya dulu kamu juga yang meminta dibelikan payung itu untuk dipakai ke sekolah bila hujan turun?”

Anto merengut.

“Tetapi, sekarang teman-teman Anto sudah banyak yang memakai jas hujan, Bu,” tuturnya.

“Lalu, kamu mau ikut-ikutan mereka memakai jas hujan juga?”

“Ya, maunya sih begitu, Bu. Anto kan pernah bilang, kalau dengan jas hujan gerak langkah Anto jadi bisa lebih leluasa.”

“Oh, jadi itu alasannya, apa bukan karena kamu takut diledek sama teman-temanmu karena memakai payung?”

Anto malu-malu tersenyum.

“Kok Ibu bisa tahu?”

“Karena itulah kemungkinan lain dari keinginan kamu itu. Benar, bukan?”

“Itu juga memang salah satunya sih.”

Ibu jadi ikut-ikutan tersenyum.

“Ya, sudah, nanti kalau Bapak sudah dapat rezeki, Ibu akan belikan kamu jas hujan,” ucapnya. “Tetapi sekarang, lebih baik kamu pakai dulu payung yang ada, daripada nanti kehujanan.”

Raut wajah Anto berubah ceria mendengar ucapan ibunya.

“Tapi Ibu janji ya, bakal belikan Anto jas hujan.”

Ibu mengangguk.

“Ya, sudah, cepat berangkat,” katanya, “nanti kamu malah terlambat sampai di sekolah lagi.”

Kemudian dengan bergegas, Anto menyambar tangan ibunya dan menciumnya. Ia melangkah keluar rumah dengan payung terkembang di atas kepalanya. Hujan masih belum reda. Sepenuh langit sudah rata berwarna kelabu. Di sepanjang jalanan aspal, sudah banyak terbentuk genangan-genangan air. 

Anto berusaha melangkah dengan hati-hati untuk menghindari cipratan air dari kendaraan yang lewat. Di tengah jalan, ia melihat Bidin dan Doni yang berjalan mendekatinya. Melihat wajah kedua anak itu yang cengengesan, ia sudah bisa menebak apa yang bakal terjadi.

“Helo Neng Anto, boleh ikut payungnya tidak?” celetuk Bidin.

Anto diam saja, pura-pura tidak mendengar. Tapi hatinya sebel banget dipanggil begitu. Ia berharap bisa segera punya jas hujan agar terbebas dari kedua anak itu.

“Kok diam saja sih? Sombong ye?” goda Doni.

Mata Anto melotot. Mulutnya siap menyemburkan kata-kata. Tetapi, sebelum sempat ia bersuara….

“Anto!!”

Suara itu mengurungkan niat Anto.

Langkahnya terhenti. Ia menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Bidin dan Doni pun ikut berhenti. Serta merta juga menoleh. Dita, teman sekelas mereka, sedang berteduh di emperan sebuah warung. Tangannya melambai pada Anto. Buru-buru Anto menghampirinya.

“Ada apa, Dit? Kamu kok di sini?”

“Aku tak bawa payung, To. Boleh tidak aku ikut berpayung denganmu?”

Anto terkejut. Ia menoleh pada Bidin dan Doni yang masih berdiri memandanginya. Lalu, ia tersenyum.

“Dengan senang hati,” katanya kemudian. “Ayo, sebelum kita terlambat.”

Dita tersenyum senang. Segera ia melangkah bersama Anto di bawah lindungan payung. Ketika melewati Bidin dan Doni, Anto sempat tersenyum lebar sambil bergumam, “Ada enaknya juga ke sekolah membawa payung.”

Bidin dan Doni cuma diam. Melonggo.

***
(Dimuat Kreatif edisi No. 05/ 2006)

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...