Pages

07 April, 2016

Cerpen Surat Kaleng

foro-gambar-surat
Ilustrasi
Cerpen : Sokat

Seusai istirahat, Iksan masuk kelasnya dengan wajah berseri-seri. Dia masih terlihat senang dengan gol yang dibuatnya tadi saat bermain sepak bola. 

Pak Kendi yang mengajar olah raga juga menetapkan Iksan menjadi kapten tim kesebelasan kelas V untuk kompetisi sepakbola antarsekolah.

Saat Iksan akan memasukkan kaos olah raganya ke dalam tas, dia menemukan sehelai kertas yang terselip di bawah tasnya. 

Iksan membuka lipatan kertas dan melihat ada sebaris tulisan. Dia termangu.

Awas! Aku akan bikin kamu celaka sepulang sekolah!



Iksan terkejut membacanya. Doni, teman sebangkunya, datang.

“Kamu kalau bengong kayak begitu jadi mirip boneka yang suka dipajang di toko baju!” ledek Doni.

Iksan menoleh dengan tidak tersenyum. “Gawat, Doni,” katanya pelan.

“Ada apa? Kamu sakit?” tanya Doni hati-hati.

Iksan menatap Doni. “Surat kaleng,” kata Iksan pelan.

Doni mengangkat alis matanya tanda heran. “Surat kaleng?”

Iksan menyerahkan selembar kertas yang ditemukannya pada Doni. Doni memandangi surat itu masih dengan wajah yang heran

“Cuma ini? Kalengnya mana?”

Iksan mendengus kesal. “Surat kaleng itu bukannya surat pakai kaleng, tapi surat yang tidak ada nama pengirimnya!” bisiknya.

Doni manggut-manggut sambil cengengesan. Dia mengambil surat dari tangan Iksan dan membaca isinya. Doni terlihat kaget.

“Kau mau membantuku mencari tahu siapa menulisnya?” sambung Iksan.

Doni menatap Iksan.

“Kalau berhasil, kau boleh memakai sepeda BMX milikku selama seminggu,” tukas Iksan.

Doni tersenyum senang. Dan mengangsurkan tangannya untuk mengajak Iksan salaman sebagai tanda setuju. Iksan menyambut uluran tangan Doni.

Tak lama, Bu Sudirah masuk kelas dan memulai pelajaran matematika. Saat Bu Sudirah menyuruh anak-anak untuk mengerjakan soal, Doni mengeluarkan buku kecil dari tasnya dan menyodorkannya pada Adam yang duduk di belakangnya.

“Coba kau tulis nama dan tanggal lahirmu dan suruh anak-anak lain juga menuliskannya, itu untuk bikin kartu klub sepak bola kita,” bisik Doni.

Adam mengambil buku kecil Doni. “Boleh pakai kata-kata mutiara, kan?”

“Terserah, tapi jangan panjang-panjang!” sahut Doni.

Setelah itu, Doni pun larut kembali mengerjakan soal yang diberikan Bu Sadirah. Beberapa saat kemudian, Adam mengembalikan buku kecilnya pada Doni.

“Anak-anak yang lain sudah juga?” tanya Doni.

“Cuma yang belakang saja,” balas Adam.

Doni mengangguk dan memperhatikan setiap tulisan yang sudah dibuat teman-temannya. Sesaat, tangannya berhenti membalikkan halaman buku kecil.

“Aku kira tugasku bakal segera selesai,” kata Doni sambil senyum dan menyerahkan buku kecil beserta kertas surat pada Iksan.

“Joko?” ucap Iksan lirih tak percaya.

Doni segera merebut surat di tangan Iksan dan segera menuju bangku Joko. Joko terlihat kaget melihat Doni datang dan langsung duduk di bangku di sampingnya yang kosong. Doni tersenyum menatap Joko.

“Boleh aku tanya sedikit?” tukas Doni.

“Ada apa?” balas Joko.

”Apakah kamu yang menulis surat ini?” kata Doni sembari menunjukkan sekilas surat kaleng yang dibawanya.

Terlihat wajah Joko agak terkejut. Dia berusaha merebut surat itu, tapi tangan Doni lebih cepat menepisnya.

“Aku kan bilang Bu Guru kalau kamu enggak mengatakan maksud surat ini?” ancam Doni.

Joko terlihat diam.

“Aku hitung sampai tiga... satu... dua... ti....”

“Aku dipaksa Dodo,” ucap Joko pelan.

Doni menatap Joko tak percaya, lalu memandang ke arah Dodo yang duduk di deret sebelah Iksan. Doni menuju bangku Dodo. 

Dia menyuruh Salim yang duduk di sebelah Dodo untuk pindah duduk ke samping Iksan. Dodo kaget melihat Doni datang.

“Kenapa kamu menyuruh Joko untuk bikin surat ini?” bisik Doni sembari menunjukkan sekilas surat kaleng di tangannya.

Dodo kaget melihat surat itu, tapi dia hanya diam. Doni kesal dan langsung mengangkat tangan.

“Jangan bilang Bu guru,” potong Dodo.

Doni menurunkan tangannya. Setelah bubaran sekolah. Doni dan Iksan mencegat Dodo.

“Aku ingin soal ini bisa selesai sekarang,” tukas Doni. “Kenapa kau melakukan itu?”

Dodo menatap Iksan dengan pandangan tak senang. Lalu, berkata pada Doni.

“Aku hanya tak suka dia merebut posisi kapten kesebelasan dari tanganku!”

“Apa? Jadi, cuma sebab masalah kapten saja, kau pakai ancam-ancaman segala?”
Dodo terdiam. Iksan merasa tak enak.

“Maafkan aku, nanti aku akan bilang Pak Kendi untuk mengembalikan posisi kapten padamu,” ucap Iksan. “Aku tak mau kesebelasan kita kalah gara-gara kita berebut untuk menjadi kapten.”

Iksan mengulurkan tangannya. Ragu, Dodo menyambut uluran tangan Iksan.

 “Nah, masalahnya sudah selesai,” ucap Doni menengahi. “Ayo kita pulang.”

Iksan dan Dodo mengikuti langkah Doni. Sesaat, Dodo menghentikan langkahnya dan menatap Iksan. Iksan menoleh.

“Maafkan aku, San, aku memang salah,” kata Dodo. “Aku pikir kamu memang lebih pantas menjadi kapten.”

Doni dan Iksan tersenyum dan merangkul Dodo. Mereka pun melangkah lagi.

“Ngomong-ngomong, kamu masih suka balapan sepeda, kan, Do?” tukas Doni. “Gimana kalau kita balapan nanti sore? Mumpung aku dapat pinjaman sepeda!”

Iksan langsung mengeplak kepala Doni, tapi Doni menghindar sambil tertawa.




*****
(Dimuat di Bravo, 2008)

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...