Pages

07 August, 2014

Mawar Berduri [part2]


“Dia juga suka kamu?”
“Kayaknya.”
“Kok kayaknya?”
“Aku belom tanya dia.”
“Hahahaha….” Romli terbahak. “Itu namanya bagai punguk merindukan bulan!”
Bobby diam. Romli melihat Bobby yang terdiam jadi ikut diam lagi. Tawanya hilang. Dia menatap Bobby.
“Kamu tau kan artinya bagai punguk merindukan bulan?” tanya Romli ragu. “Itu peribahasa Indonesia.”
“Tau!”
Romli tertawa lagi.
      Bobby makin kesal melihat Romli. Teman semasa SMA-nya yang kini dagang kembang di bawah stasiun kereta Cikini itu tidak sedikit pun berempati padanya. Padahal, dia cerita bukan untuk dicemooh. Dia hanya minta pendapat Romli. Kalau tahu bakal cuma diledek, Bobby lebih baik memilih diam.
Tetapi, dia tak bisa menutup mulutnya dari keinginan untuk bercerita. Mengungkapkan buncah di hatinya. Dia tak ingin menyimpan sendiri getar yang selalu muncul di hatinya jika memandang perempuan pujaannya. Perempuan yang selalu tersenyum manis di balik etalase toko roti di samping Taman Ismail Marzuki. Mawar Puspaindah. Dia selalu indah dalam pandangan Bobby.
Walau belum pernah saling menyapa. Tapi, Bobby yakin kisah hatinya sudah sampai pada Mawar. Dia yakin itu. Sebab tiap kali dia nongkrong di depan toko roti, Mawar selalu senyum padanya kalau kebetulan sedang melongok ke luar toko. Dia hanya tinggal mencari waktu untuk mengungkapkan gelora di dadanya pada wanita yang memesona itu.
“Kamu  nggak seneng aku punya pacar?” tanya Bobby.
Romli terdiam menatap Bobby.
“Aku seneng,” sahut Romli.
“Nggak bohong?”
“Buat apa bohong? Kalo kamu senang, aku juga ikut senang!” tandas Romli.
Bobby manggut-manggut tersenyum.
“Kita ini udah lama temanan. Iya, kan?” lanjut Romli.
“Iya.”
Romli diam berpikir. Lalu, dia menoleh lagi pada Bobby.
“Ngomong-ngomong kita udah berapa lama sih temenan?” tanya Romli bingung.
Bobby menghela napas. Senyumnya hilang. Meski begitu, Romli bukan teman yang selalu menjengkelkan buat Bobby. Romli pun memberi saran pada Bobby untuk segera menembak Mawar. Biar tahu perasaan Mawar Puspaindah padanya.
Saran dari Romli dijalankan keesokan harinya. Menjelang sore, Bobby sudah nongrong di depan toko roti. Rambutnya disisir licin ke samping. Kemeja kotak-kotak warna kuningnya dimasukkan ke dalam celana kain warna coklat yang juga licin baru disetrika. Dia tersenyum pada Mulyono, tukang parkir, yang sedang meniup pluit mengarahkan mobil yang selesai belanja di toko roti.
Bobby duduk di bangku yang biasa diduduki Mulyono. Tangannya membersihkan debu yang berselimut di kiri-kanan sneaker-nya yang berwarna merah. Mulyono datang menghampiri setelah mengatur mobil.
“Rapi banget! Mau kemana?” tanya Mulyono takjub melihat Bobby.
“Biasa, Bang, anak muda,” jawab Bobby.
Mulyono bingung.
“Memangnya berapa umur lu?”
“Dua puluh!”
“Masya Allah, gua kira tiga puluh!”
Bobby kaget.
“Kagak, Bang,” cetus Bobby, “saya masih muda!”
“Maaf, muka memang bisa menipu!” celoteh Mulyono sambil terkekeh.
Bobby menghela napas. Dia melirik Mulyono yang dianggapnya nggak tahu gaya anak muda. Setelah itu Bobby jadi malas untuk bicara lagi dengan Mulyono. Dia lebih memilih untuk memandang ke dalam toko roti di balik jendela kaca. Di situ ada Mawar yang berdiri di belakang meja kasir. Mawar yang selalu tersenyum saat bercakap-cakap dengan temannya.
Selama dua jam Bobby menunggu sambil mengantuk dan berdiri, sebab bangku yang didudukinya diambil alih oleh pemiliknya, Mulyono. Sampai saat yang dinantinya tiba. Mawar pun pulang. Dia keluar dari toko roti sudah berganti pakaian. Baju seragamnya sudah diganti dengan kaos ketat hitam dan celana jins abu-abu. Bobby jadi melotot melihat Mawar dan menelan ludah.
“Hai,” sapa Bobby waktu Mawar sudah berdiri di trotoar jalan depan tokonya menunggu bus.
“Hai.”
“Pulang kemana?”
“Ke rumah.”
Bobby tertawa kecil.
“Rumahnya dimana?”
“Cawang.”
Bobby manggut-manggut. Seperti tersadar dia menyodorkan tangan untuk berkenalan.
“Nama saya Bobby,” katanya.
Sebelum sempat menjawab, sebuah bus Kopaja berhenti di depan Mawar. Mawar menoleh pada Bobby.
“Maaf, aku pulang dulu, ya!” ucapnya sembari naik ke bus Kopaja.

Bobby melongo dengan tangan masih menggantung di udara. Bus itu menderu dan bergerak menjauh sambil menyemprotkan asap hitam knalpot yang mengenai wajah Bobby. Bobby berkali-kali mengibaskan tangannya untuk menghalau asap hitam. Bobby mendengus kesal. Niatnya berkenalan belum kesampaian.

Bersambung.... ke part 3

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...