Cerpen Surat Kaleng
![]() |
Ilustrasi |
Cerpen : Sokat
Seusai istirahat, Iksan masuk kelasnya dengan wajah berseri-seri. Dia
masih terlihat senang dengan gol yang dibuatnya tadi saat bermain sepak bola.
Pak Kendi yang mengajar olah raga juga menetapkan Iksan menjadi kapten tim kesebelasan
kelas V untuk kompetisi sepakbola antarsekolah.
Saat Iksan akan
memasukkan kaos olah raganya ke dalam tas, dia menemukan sehelai kertas yang
terselip di bawah tasnya.
Iksan membuka lipatan kertas dan melihat ada sebaris
tulisan. Dia termangu.
Awas! Aku akan bikin kamu celaka sepulang sekolah!
Iksan terkejut membacanya. Doni, teman sebangkunya, datang.
“Kamu kalau
bengong kayak begitu jadi mirip boneka yang suka dipajang di toko baju!” ledek
Doni.
Iksan menoleh
dengan tidak tersenyum. “Gawat, Doni,” katanya pelan.
“Ada apa? Kamu
sakit?” tanya Doni hati-hati.
Iksan menatap
Doni. “Surat kaleng,” kata Iksan pelan.
Doni mengangkat
alis matanya tanda heran. “Surat kaleng?”
Iksan
menyerahkan selembar kertas yang ditemukannya pada Doni. Doni memandangi surat
itu masih dengan wajah yang heran
“Cuma ini?
Kalengnya mana?”
Iksan mendengus
kesal. “Surat kaleng itu bukannya surat pakai kaleng, tapi surat yang tidak ada
nama pengirimnya!” bisiknya.
Doni
manggut-manggut sambil cengengesan. Dia mengambil surat dari tangan Iksan dan
membaca isinya. Doni terlihat kaget.
“Kau mau
membantuku mencari tahu siapa menulisnya?” sambung Iksan.
Doni menatap
Iksan.
“Kalau
berhasil, kau boleh memakai sepeda BMX milikku selama seminggu,” tukas Iksan.
Doni tersenyum senang. Dan mengangsurkan tangannya untuk mengajak Iksan
salaman sebagai tanda setuju. Iksan menyambut uluran tangan Doni.
Tak lama, Bu
Sudirah masuk kelas dan memulai pelajaran matematika. Saat Bu Sudirah menyuruh
anak-anak untuk mengerjakan soal, Doni mengeluarkan buku kecil dari tasnya dan
menyodorkannya pada Adam yang duduk di belakangnya.
“Coba kau tulis
nama dan tanggal lahirmu dan suruh anak-anak lain juga menuliskannya, itu untuk
bikin kartu klub sepak bola kita,” bisik Doni.
Adam mengambil
buku kecil Doni. “Boleh pakai kata-kata mutiara, kan?”
“Terserah, tapi
jangan panjang-panjang!” sahut Doni.
Setelah itu, Doni pun larut kembali mengerjakan soal yang diberikan Bu
Sadirah. Beberapa saat kemudian, Adam mengembalikan buku kecilnya pada Doni.
“Anak-anak yang
lain sudah juga?” tanya Doni.
“Cuma yang
belakang saja,” balas Adam.
Doni mengangguk
dan memperhatikan setiap tulisan yang sudah dibuat teman-temannya. Sesaat,
tangannya berhenti membalikkan halaman buku kecil.
“Aku kira
tugasku bakal segera selesai,” kata Doni sambil senyum dan menyerahkan buku
kecil beserta kertas surat pada Iksan.
“Joko?” ucap
Iksan lirih tak percaya.
Doni segera
merebut surat di tangan Iksan dan segera menuju bangku Joko. Joko terlihat
kaget melihat Doni datang dan langsung duduk di bangku di sampingnya yang
kosong. Doni tersenyum menatap Joko.
“Boleh aku
tanya sedikit?” tukas Doni.
“Ada apa?”
balas Joko.
”Apakah kamu
yang menulis surat ini?” kata Doni sembari menunjukkan sekilas surat kaleng
yang dibawanya.
Terlihat wajah
Joko agak terkejut. Dia berusaha merebut surat itu, tapi tangan Doni lebih
cepat menepisnya.
“Aku kan bilang
Bu Guru kalau kamu enggak mengatakan maksud surat ini?” ancam Doni.
Joko terlihat
diam.
“Aku hitung
sampai tiga... satu... dua... ti....”
“Aku dipaksa
Dodo,” ucap Joko pelan.
Doni menatap
Joko tak percaya, lalu memandang ke arah Dodo yang duduk di deret sebelah
Iksan. Doni menuju bangku Dodo.
Dia menyuruh Salim yang duduk di sebelah Dodo
untuk pindah duduk ke samping Iksan. Dodo kaget melihat Doni datang.
“Kenapa kamu
menyuruh Joko untuk bikin surat ini?” bisik Doni sembari menunjukkan sekilas
surat kaleng di tangannya.
Dodo kaget
melihat surat itu, tapi dia hanya diam. Doni kesal dan langsung mengangkat
tangan.
“Jangan bilang
Bu guru,” potong Dodo.
Doni menurunkan
tangannya. Setelah bubaran sekolah. Doni dan Iksan mencegat Dodo.
“Aku ingin soal
ini bisa selesai sekarang,” tukas Doni. “Kenapa kau melakukan itu?”
Dodo menatap
Iksan dengan pandangan tak senang. Lalu, berkata pada Doni.
“Aku hanya tak
suka dia merebut posisi kapten kesebelasan dari tanganku!”
“Apa? Jadi,
cuma sebab masalah kapten saja, kau pakai ancam-ancaman segala?”
Dodo terdiam.
Iksan merasa tak enak.
“Maafkan aku, nanti aku akan bilang Pak Kendi untuk mengembalikan posisi
kapten padamu,” ucap Iksan. “Aku tak mau kesebelasan kita kalah gara-gara kita
berebut untuk menjadi kapten.”
Iksan
mengulurkan tangannya. Ragu, Dodo menyambut uluran tangan Iksan.
“Nah, masalahnya sudah selesai,” ucap Doni
menengahi. “Ayo kita pulang.”
Iksan dan Dodo
mengikuti langkah Doni. Sesaat, Dodo menghentikan langkahnya dan menatap Iksan.
Iksan menoleh.
“Maafkan aku,
San, aku memang salah,” kata Dodo. “Aku pikir kamu memang lebih pantas menjadi
kapten.”
Doni dan Iksan
tersenyum dan merangkul Dodo. Mereka pun melangkah lagi.
“Ngomong-ngomong,
kamu masih suka balapan sepeda, kan, Do?” tukas Doni. “Gimana kalau kita
balapan nanti sore? Mumpung aku dapat pinjaman sepeda!”
Iksan langsung
mengeplak kepala Doni, tapi Doni menghindar sambil tertawa.
*****
(Dimuat di Bravo, 2008)
Comments
Post a Comment